Lanjut ke konten

KSSL 2013

Mei 11, 2013

Haloooo, salam lestari ! setelah sekian lama tidak bersua. Walaupun tak hanya lama, karena lebih dari satu tahun mungkin blog ini tdk aktif :p. 2013 ini kami sebisa mungkin membaharui media media sosial KSSL termasuk didalamnya adalah blog ini yg sudah kabarnya tutun temurun *maaf kak sesepuh :p*, twitter kssl @ksslfkhugm, KSSL fanpage, KSSL profile blog (fkh.ugm.ac.id). Mohon doanya ya kakaaak, semoga dengan adanya media media sosial bisa jadi ajang reuni atau sharing2 kabar alumnus, ksslers dan satliers seluruh Indonesia. Salam Lestari !

Makrab KSSL

Juli 24, 2011

Acara makrab KSSL 2011 terdiri dari pentas seni (pensi), diskusi mengenai satwa – satwa liar, serta alumni KSSL bertukar pengalaman yang pernah dialami selama mereka bergabung dengan KSSL, serta outbond untuk lebih mengakrabkan antar anggota KSSL dan alumni KSSL.

Jumat, 17 Juni 2011 Pukul 17.00 – 19.30 WIB

Para peserta dan panitia berkumpul di kampus FKH UGM untuk persiapan berangkat ke Desa Wisata Gunung Api Purba, Wonosari. Pemberangkatan peserta dan panitia di bagi menjadi 2 gelombang,pukul 16.00 dan pukul 17.00 WIB. Peserta gelombang 1 yang telah sampai di Desa Wisata Gunung Api Puba terlebih dahulu dapat beristirahat sejenak sambil menunggu peserta gelombang 2. Kegiatan setelah sampai di tempat makrab adalah ishoma.

 

Jumat, 17 Juni 2011 Pukul 19.30 – 22.00 WIB

Acara pertama yaitu pembukaan. Acara dibuka oleh panitia sie acara Asdila Putri sebagai pembawa acara. Sambutan ketua Panitia oleh Cindra Riskiyana dilanjutkan sambutan ketua KSSL oleh Eni Purwaningsih. Kemudian acara selanjutnya pentas seni (pensi). Pensi dimulai dari pembagian perserta menjadi empat kelompok, kemudian masing – masing kelompok berunding apa yang akan mereka tampilkan di pensi. Pensi dibuka oleh panitia sie acara Ervina Ryan Puspasari sebagai pembawa acara.

Setelah pensi selesai, ada diskusi mengenai KSSL yang diisi alumni KSSL Barlian Purnama Putra. Diskusi yang disampaikan mengenai kapan berdirinya KSSL, dan bertukar cerita mengenai pengalaman yang pernah dialami selama menjadi anggota KSSL. Disini alumni bercerita mengenai pengalaman magang saat berada di Pulau Tinjil. Sebagai anggota KSSL seharusnya kita lebih unggul mengetahui tentang satwa – satwa liar, misalnya bagaimana behavior hewan – hewan tertentu khususnya satwa liar. Karena itu dapat menjadi bekal untuk ke depannya kita menjadi seorang dokter hewan.

Pada sesi tanya jawab, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan oleh peserta makrab mengenai medis pada satwa liar. Sebagai anggota KSSL kita tidak perlu terlalu jauh mengenai medisnya karena suatu saat nanti itu akan diberikan pada kuliah. Namun, KSSL mengajarkan dasar – dasar medisnya, misalnya cara dan tempat pengambilan darah pada masing – masing kelas hewan yaitu reptile, aves, mamalia, atau primata.

Diskusi pun melebar sampai forum satwa liar yang bernama Chelonia. Chelonia merupakan forum satwa liar yang anggotanya merupakan mahasiswa – mahasiswa yang tertarik dengan konservasi satwa liar. Mengapa dinamakan Chelonia karena Chelonia itu jangkauannya luas, jadi harapannya forum ini dapat menjangkau semua orang yang peduli mengenai konservasi satwa liar. Selain itu, Chelonia berumur panjang, harapan lainnya bahwa forum ini dapat berumur panjang.

Setelah selesai mengenai diskusi itu, seluruh peserta istirahat.

 

Sabtu, 18 Juni 2011 Pukul 09.00 – 12.00 WIB

Sebelum outbond, para peserta dipersilahkan sarapan. Setelah itu peserta bersiap – siap untuk outbond. Outbond terdiri dari 3 pos. Masing – masing pos terdapat games. Games pada pos pertama yaitu “panjang – panjangan”. Peserta diharapkan membuat rantai panjang menggunakan barang – barang yang dipunya. Kelompok yang lebih panjang akan menang. Maka kelompok yang menang bisa mencoret – coret muka kelompok yang kalah dengan menggunakan arang.

Pos berikutnya yaitu lomba ketangkasan. Masing – masing kelompok mengirimkan salah satu anggotanya untuk mengikuti games ini. Mata ditutup, kemudian peserta lomba harus melewati bambu yang sudah dipersiapkan panitia hanya dengan perintah dari teman kelompoknya. Peserta yang paling cepat menuju finish lah yang menang. Sama seperti sebelumnya, kelompok yang menang berhak mencoret wajah anggota kelompok yang kalah. Kemudian sambil beristirahat sejenak, para peserta dapat menikmati pemandangan di atas bukit.

Pos selanjutnya menuruni bukit. Gamesnya yaitu kecepatan. Telah disiapkan lubang – lubang yang dibuat dengan menggunakan tali rafia. Lubang tersebut ada dengan berbagai ukuran. Setiap anggota kelompok harus melewati lubang itu dengan syarat setiap orang melalui lubang yang berbeda. Kelompok yang paling cepat melewati lubang tersebutlah yang akan menang.

Kemudian para peserta kembali berkumpul di pendopo untuk istirahat sejenak dan pengumuman pemenang dari acara Pensi dan Outbond. Kelompok yang menang mendapatkan doorprise yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Setelah itu, pada pukul 12.00 WIB seluruh peserta persiapan pulang.

“Jogja Bird Walk” Oleh Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) kerjasama dengan Kelompok Studi Satwa Liar Fakultas Kedokteran Hewan KSSL FKH UGM

Juli 24, 2011

Kegiatan Jogja Bird Walk (JBW) adalah kegiatan pengamatan dan pengidentifikasian jenis burung. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 26 Juni 2011 yang dimulai pukul 09.30 hingga pukul 12.00 WIB di Suaka Marga Satwa Sermo, Kulon Progo. Kegiatan ini diadakan oleh Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) kerjasama dengan Kelompok Studi Satwa Liar  Fakultas Kedokteran Hewan (KSSLFKH UGM). Peserta berjumlah 78 orang yang berasal dari KSSL FKH UGM 16 orang, Bionic Fakultas Biologi UNY sebanyak 9 orang, Biolaska Fakultas Biologi UIN sebanyak 14 orang, KP3 Burung Fakultas Kehutanan UGM 3 orang, Matalabiogama Fakultas Biologi UGM sebanyak 3 orang, Matala UPN 2 orang, KSB UAJY 1 orang, Majestic 1 orang, Mapala STTL 1 orang, Palmae 1 orang, Dewangga 1 orang, SMSR 1 orang, Alsoneta 1 orang, Schedultsem 10 orang, dan Starcrusher 11 orang. Pengamatan burung ini dibagi menjadi 4 kelompok yang masing – masing dari kelompok itu masih dibagi menjadi 2 – 4 kelompok lagi untuk efektivitas dalam pengamatan. Masing – masing kelompok memiliki jalur pengamatan yang berbeda dengan dipandu oleh 1-2 orang. Setelah dalam jangka waktu yang telah ditentukan kira – kira 2 jam peserta kembali berkumpul di RPH dan memaparkan hasil pengamatan kepada peserta lain dengan perwakilan masing – masing kelompok 1 orang untuk menyampaikan hasilnya. Hasil diskusi dapat disimpulkan bahwa mengalami penurunan jenis dan jumlah burung yang dapat diamati dibandingkan pengamatan tahun 2009 yang telah dilakukan oleh kelompok Bionic UNY. Faktor lain penurunan karena waktu pengamatan yang terlalu siang sehingga banyak burung tidak hinggap di dahan. Setelah pemaparan hasil diskusi, acara selanjutnya diisi oleh pihak BKSDA sebagai tamu undangan untuk memberikan informasi terkait sejarah dan fungsi Suaka Marga Satwa Sermo. Menurut Adang Bayu Pamungkas, S. Hut selaku staff BKSDA Jogja dan Dyahning Retno Wati, S.Hut selaku Ketua di bidang Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Jogja menyatakan bahwa kawasan ini merupakan alih fungsi dari kawasan hutan produksi pada petak 20,21,22,23 dan sebagian petak 24 dengan luas total 181,0 ha masuk dalam RPH. Berdasarkan PP Nomor 68 Tahun 1998 menyebutkan setiap Kawasan Cagar Alam atau Kawasan Suaka Marga Satwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan atas dasar kepentingan keutuhan ekosistem. Rencana pengelolaan disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana Pengelolaan Kawasan Suaka Marga Satwa sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan dan garis-garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Keberhasilan dalam mengelola Suaka Marga Satwa ini tidak terlepas dari kerjasama dengan masyarakat sekitar. Agenda BKSDA dalam waktu dekat ini akan mengadakan “kemah konservasi’ dengan bentuk kegiatan workshop/ berkemah, melakukan berbagai kegiatan seperti pengamatan burung, identifikasi tumbuhan, dll. Kegiatan ini bertujuan untuk mempersatukan berbagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi dan sebuah program untuk pemanfaatan lingkungan dengan tidak merusak alam.

 

 

Kelompok 1 yang di pandu oleh Shaim berhasil mengamati beberapa burung seperti pada tabel berikut ini :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Ayam Hutan Hijau Gallus varius 

2

Bentet Kelabu Lanius schach

3

Bondol Jawa Lonchura leucogastroides

4

Burung Madu kelapa Anthreptes malaccensis

5

Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis 

6

Cekakak Jawa Halcyon cyanoventris 

7

Cinenen Pisang Orthotomus sutorius 

8

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

9

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster 

10

Kehicap Ranting Hypothymis azurea

11

Merbah Corok-corok Pycnonotus simplex

12

Sepah Kecil Pericrocotuscinnamomenus

13

Tekukur Streptopelia chinensis 

14

Walet linchi Collocalia linchii 

 

 

Kelompok 2 dengan pemandu Zulqarnain mendapatkan burung seperti di bawah ini :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Bondol Jawa Lonchura leucogastroides

2

Bondol peking Lonchura punctulata

3

Burung madu kelapa Anthreptes malaccensis

4

Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis 

5

Caladi ulam Dendrocopus macei

6

Cekakak Jawa Halcyon cyanoventris 

7

Cekakak Sungai Todirhampus chloris

8

Cipoh Kacat Aegithina tiphia

9

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

10

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster 

11

Kehicap ranting Hypothymis azurea

12

Kipasan belang

13

Prenjak Alcnedo atthis

14

Prenjak Coklat Prinia polychroa

15

Sepah Kecil Pericrocotuscinnamomenus

16

Sikatan Ninon Eumyias indigo

17

Takur Ungkut – Ungkut Megalaima

18

Tepekong Jambul Hemiprocne longipennis

19

Walet linchi Collocalia linchii 

20

Walet Sapi Collocalia esculenta 

 

Kelompok 3.I dipandu Mufti dari Biolaska UIN mendapatkan burung seperti di bawah ini :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Bondol Jawa Lonchura leucogastroides

2

Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis 

3

Cinenen jawa Orthotomus sepium

4

Cinenen pisang Orthotomus sutorius

5

Cipoh Kacat Aegithina tiphia

6

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

7

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster 

8

Kehicap ranting Hypothymis azurea

9

Sepah Kecil Pericrocotuscinnamomenus

10

Tekukur biasa Streptopelia chinensis 

11

Walet linchi Collocalia linchii 

 

Kelompok 3.II dipandu Zulfikar abdoellah dari Bionic UNY mendapatkan burung seperti di bawah ini :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Bentet kelabu Lanius schach

2

Bubut jawa Centropus nigrirufus

3

Burung madu kelapa Anthreptes malaccensis

4

Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis 

5

Cinenen pisang Orthotomus sutorius

6

Cipoh Kacat Aegithina tiphia

7

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

8

Empuloh janggut

9

Kehicap ranting Hypothymis azurea

10

Merbah cerucuk Pycnonotus

11

Sikatan Ninon Eumyias indigo

12

Sri gunting kelabu Dicrurus sp

13

Tekukur biasa Streptopelia chinensis 

14

Walet linchi Collocalia linchii 

 

Kelompok 4.I dipandu Untung dari Bionic UNY mendapatkan burung seperti di bawah ini :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Bentet kelabu Lanius schach

2

Bubut jawa Centropus nigrirufus

3

Burung madu kelapa Anthreptes malaccensis

4

Cici padi

5

Cipoh Kacat Aegithina tiphia

6

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

7

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster 

8

Empuloh janggut

9

Prenjak jawa Prinia familiaris

10

Tekukur biasa Streptopelia chinensis 

11

Walet linchi Collocalia linchii 

 

Kelompok 4.II dipandu Arif dan Willy mendapatkan burung seperti di bawah ini :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Bondol Jawa Lonchura leucogastroides

2

Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis 

3

Cekakak Jawa Halcyon cyanoventris 

4

Cinenen pisang Orthotomus sutorius

5

Cipoh Kacat Aegithina tiphia

6

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

7

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster 

8

Kapinis rumah

9

Kipasan belang

10

Prenjak Alcnedo atthis

11

Sepah hutan

12

Tepekong Jambul Hemiprocne longipennis

13

Walet linchi Collocalia linchii 

 

Hasil pengamatan burung dari kelompok 1 – 4 adalah sebabgai berikut :

No. Nama Daerah/Lokal Nama Ilmiah

1

Ayam Hutan Hijau Gallus varius 

2

Bentet Kelabu Lanius schach

3

Bondol Jawa Lonchura leucogastroides

4

Bondol peking Lonchura punctulata

5

Bubut jawa Centropus nigrirufus

6

Burung madu kelapa Anthreptes malaccensis

7

Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis 

8

Caladi ulam Dendrocopus macei

9

Cekakak Jawa Halcyon cyanoventris 

10

Cekakak Sungai Todirhampus chloris

11

Cici padi

12

Cinenen jawa Orthotomus sepium

13

Cinenen Pisang Orthotomus sutorius 

14

Cipoh Kacat Aegithina tiphia

15

Cucak Kuning Pycnonotus melanicterus

16

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster 

17

Empuloh janggut

18

Kapinis rumah

19

Kehicap ranting Hypothymis azurea

20

Kipasan belang

21

Merbah cerucuk Pycnonotus

22

Merbah Corok-corok Pycnonotus simplex

23

Prenjak Alcnedo atthis

24

Prenjak Coklat Prinia polychroa

25

Prenjak jawa Prinia familiaris

26

Sepah hutan

27

Sepah Kecil Pericrocotuscinnamomenus

28

Sikatan Ninon Eumyias indigo

29

Sri gunting kelabu Dicrurus sp

30

Takur Ungkut – Ungkut Megalaima

31

Tekukur Streptopelia chinensis 

32

Tekukur biasa Streptopelia chinensis 

33

Tepekong Jambul Hemiprocne longipennis

34

Walet linchi Collocalia linchii 

35

Walet Sapi Collocalia esculenta 

 

Seminar Owa Jawa dan Rusa

Juli 24, 2011

Waktu dan Tempt : Sabtu, 14 Mei 2010 di R. Seminar 1 V4 FKH UGM

 

Pada seminar kali ini  materi pertama tentang owa jawa diidi oleh bapak Abdi Fitria, S. Hut, M. Si. Yang menjelaskan tentang karakteristik Owa ditutupi rambut yang berwarna kecoklatan sampai keperakan atau kelabu.  Bagian atas kepalanya berwarna hitam.  Muka seluruhnya juga berwarna hitam, dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh.  Dagu pada beberapa individu berwarna gelap.  Umumnya anak yang baru lahir berwarna lebih cerah.  Warna rambut jantan dan betina sedikit berbeda, terutama dalam tingkatan umur.  Panjang tubuh jantan dan betina dewasa berkisar antara 750 – 800 mm.  Berat tubuh jantan berkisar antara 4 – 8 kg, sedangkan betina antara 4 – 7 kg.  Hylobates moloch dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Hylobates moloch pangoalsoni yang warna rambutnya lebih terang. Pergerakan dilakukan dengan berayun, brakhiasi, berbeda dengan colubinae yang senang melompat. Daerah jelajah mencapai 17 hektar. Suara Owa Jawa biasanya ada beberapa bagian. Pertama latihan, sesi kedua berduet antara betina dan jantan, ketiga adalah sesi bersuara panjang. Keempat tanda bila ada gangguan, mereka akan berteriak. Bahaya bisa dari manusia atau dari macan. Mereka saling menyahut pada jarak 20 meter. Untuk medokumentasi bisa pakai kamera yang dikombinasi dengan teropong atau monokuler. Status konservasi 1924 dilindungi. Hukuman bagi yang melanggar undang-undang konservasi denda paling banyak 100 juta. IUCN endangered 1986, 2004 critically endangered. CITES appendix 1 1996. Penyelamatan adalah dengan cara pembinaan habitat, pendirian pusat penyelamatan dan rehabilitasi Owa Jawa. Lalu ditutup dengan sesi tanya jawab.

Pemateri kedua adalah drh. Slamet Raharjo, M. P. Menjelaskan tentang Kandang rusa di FKH digusur ke lembah. Kemudian meminta sumbangan rusa betina ke Gembira Loka sehingga berkembang biak. Termasuk beberapa pasang yang disumbangkan ke instansi lain. Ada sumbangan Rusa Timorensis dari Gubernur Papua 13 ekor, sehingga total 28 ekor. Rusa merupakan hewan yang popular di segala umur. Rusa totol bukan asli Indonesia namun dari india. Klasifikasinya, Rusa termasuk kingdom animalia, filum chordate, mamalia ordo artiodactyla, family cervidae.

Rusa Indonesia yang penyebaran paling luas adalah Rusa Jawa/ Timorensis. Dalam buku lama genus Rusa masih cervus. Buku baru sudah masuk ke genus Rusa. Status konservasi dilindungi undang-undang tentang keanekaragaman hayati dan tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Rusa Jawa sinonimnya sunda sambar, kadang rancu dengan rusa sambar. Di Indonesia ditemukan di semua pulau Indonesia termasuk Papua dan Papua Nugini. Panjang tubuh 142 – 185 cm. Tinggi punuk 83 – 110 cm. Panjang ekor 20 cm. Setiap tahun rusa jantan akan menanggalkan tanduk, terkait dengan siklus reproduksi, setiap akhir breeding season. Beberapa minggu kemudian tumbuh tanduk baru. Rambut kasar berwarna coklat abu-abu. Anak tidak berbintik putih. Telinga lebar kaki relatif pendek.  Masa kebuntingan 6 bulan. Sexual maturity: 18 – 24 bulan. Tahun pertama belum ada tanduk. Tahun kedua ada tanduk belum bercabang. Tahun ketiga baru bercabang 3 memasuki kematangan kelamin. Life span 13 tahun. Di Indonesia breeding season ketika rusa jantan tanduknya keras, bisa terjadi setiap tahun di Jawa pada bulan Juli – September. Rusa merupakan hewan nocturnal. Jika rusa Sambar kaget, ia akan berlari, ekor akan tegak ke atas sedangkan rusa jawa tidak. Ada vokalisasi, jika ada bahaya, rusa jantan akan menyalak. Pada breeding season rusa jantan bersuara menggeram jika rusa jantan lain datang ke kumpulan haremnya. Rusa jarang minum, kebutuhan air dari pakan. Jantan dominan akan menguasai harem. Perebutan kekuasaan diawali dengan pertandingan antar pejantan. Flock terdiri dari 1 jantan dan beberapa puluh betina. Makanannya adalah buah, daun, rumput, kulit pohon. Predatornya antara lain anjing ajag, ular piton, buaya dan komodo. Status konservasi belum termasuk endangered. Bisa ditangkarkan dengan ijin BKSDA. F3 bisa dijual dan dipotong. Penghasil daging adalah rusa Jawa.

Rusa Sambar panjang tubuh 2 meter lebih. Merupakan rusa berekor panjang berwarna hitam. Berat 300 – 546 kg. Individu wilayah barat lebih besar daripada yang ditimur. Betina warnanya lebih terang daripada jantan. Rambut lebih kasar daripada Rusa Jawa. Anak tidak berbintik. Telinga mirip Rusa Jawa. Tanduk hanya pada jantan, bercabang 3. Jantan dan betina bersuarai pendek. Pada jantan surai tumbuh lebih lebat. Betina yang menyusui, di daerah leher ada bentukan kulit berwarna merah tidak berambut, sering mengeluarkan cairan berwarna putih. Masa bunting 8 bulan, setiap kelahiran hanya 1 anak. Sapih 6 bulan, life span 15 tahun. Pakan sama Rusa Jawa.

Rusa bawean sudah tumbuh tanduk pada tahun pertama. Jantan soliter atau bersama betina dan anak-anaknya. Bersifat nocturnal. Terbatas pada Pulau Bawean. Populasi menurun karena kerusakan habitat, termasuk endangered species.

Kijang sinonimnya mencek, kijang merah. Panjang tubuhnya 90 – 130cm, lebih kecil dari Rusa Bawean, lebih besar dari kancil. Berat badannya 20 – 25 kg. Warna merah kecoklatan, pangkal tanduk ditumbuhi rambut sangat lebat pada jantan, tanduk pendek. Jantan punya taring tajam. Taring tersebut bisa merobek vena jugularis anjing pitbull. Jantan soliter atau beberapa betina saat musim kawin. Makanan sama dengan Rusa Jawa dan Sambar. Penyebaran adalah di Asia Tenggara, di Indonesia bagian barat. Status konservasi masih cukup banyak. Musim kemarau turun mencari air.

Kancil besar/ Tragulus napu panjang tubuhnya 70 – 75 cm. Ukuran dewasa seperti kelinci besar. Kaki kecil tapi daya lari luar biasa. Taring cukup panjang. Warna coklat kemerahan, bawah lebih terang, kepala segitiga. Hidung besar, mata sangat besar. Tidak memiliki tanduk, tapi jantan ada taring. Bunting 152 hari, tiap kelahiran hanya 1 anak, dewasa kelamin 4 -5 bulan. Anak lahir langsung bisa berlari. Ketika menyusui kaki belakang diangkat sehingga berdiri 3 kaki. Sifatnya cepat jinak. Tingkat stress tinggi. Ketika kaget akan melenting. Makanannya adalah semua jenis tanaman, namun biasanya adalah buah-buahan. Predatornya adalah reptil. Status konservasi dilindungi, engdangered.

Kancil jawa lebih kecil dari Tragulus napu. Matanya besar. Taring tumbuh melengkung. Nama lain adalah pelanduk. Hanya ditemukan di Jawa dan Bali. Menyukai hutan primer dan semak. Jumlahnya masih cukup banyak. Populasi menurun karena kerusakan habitat.

Chital/ aksis/ rusa totol berasal dari india. Rusa tercantik warna coklat terang, tanduk lebih panjang, tumbuh pada tahun kedua. Membentuk flock jantan dan beberapa betina. Cinta damai, tidak terlalu agresif ketika musim kawin. Aktif siang dan malam hari. Diluar breeding season betina dan jantan memisah membentuk kelompok sendiri-sendiri. Boleh diperjual belikan tanpa ijin BKSDA. Dan ditutup dengan sesi diskusi.

Pelatihan Zoo Check Standar KSSL

Juli 24, 2011

Waktu dan Tempat : Minggu, 07 Mei 2010 di Kebun Binatang

Kebun binatang yang kita kunjungi adalah Taman Satwa Taru Jurug. Pada sesi yaitu sesi materi tentang standar zoochek diterangkan oleh drh. Nur Aini selaku konsultan Taman Satwa Taru Jurug. Beliau memberi materi tentang konsep-konsep dan standar animal welfare yang harus dipenuhi setiap kebun binatang.Ada 5 konsep animal welfare yaitu :

  1. Kebebasan dari rasa haus, lapar dan kekurangan gizi
  2. Kebebasan dari ketidaknyamanan secara fisik dan cuaca panas
  3. Kebebasan dari rasa sakit, luka dan penyakit
  4. Kebebasan untuk mengepresikan perilaku secara normal
  5. Kebebasan dari rasa takut dan tertekan.

Kelima kebebasan satwa di atas merupakan hal yang sempurna bagi kerangka kerja penilaian untuk memeriksa kebun binatang dan lembaga pemeliharaan satwa lainnya. Kesejahteraan satwa (Animal Welfare) tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan fisik atau ketidakadaannya luka atau penyakit. Meskipun fungsi-fungsi fisik dan kondisi keseluruhan adalah aspek penting dalam kesejahteraan satwa, kesejahteraan suatu satwa masih dapat dikatakan buruk walaupun tidak terdapat masalah fisik yang nyata dalam tubuhnya. Sebagai contoh jika satwa berada dalam keadaan takut, bosan, frustasi, cemas atau menderita stress kronis mereka mungkin nampak “normal” tetapi sebenarnya mereka tidak berada dalam keadaaan sejahtera.

Selain pemberian materi juga diperlihatkan bagaimana memberikan perlakuan medis kepada seekor harimau yang terkena stomatitis, karena hariamu merupakan hewan yang dapat menyerang manusia dengan tiba-tiba maka diperlukan bius untuk dapat memeriksanya dengan teliti. Bius tersebut diberikan dengan menggunakan alat bantu yaitu ‘tulup’. Hanya saja karena waktu yang kurang memungkinkan untuk melihat semua rangkaian pemeriksaan tersebut, kami tidak  bisa sampai selesai mengikuti acara pemeriksaan tersebut.

Secara umum, satwa yang ditempatkan dalam kandang yang tidak memenuhi syarat, akan  memperlihatkan  keseluruhan penurunan tingkat interaksi dengan  lingkungan  mereka. Hal ini dapat diekspresikan dalam berbagai macam perilaku, seperti ketika mereka duduk, berbaring atau memperbanyak tidur, reaksi yang berlebihan terhadap hal baru atau peningkatan perilaku abnormal seperti perilaku stereotip/abnormal (seperti bergoyang-goyang, mondar-mandir, menggeleng-gelengkan kepala, mempermainkan lidah dll)

Dalam usaha untuk mengurangi frustasi, kebosanan dan  penyebab stress lainnya secara perlahan mereka menjauh dari lingkungannya daripada berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka menjadi tidak aktif, hanya duduk-duduk, berbaring atau tidur dalam waktu yang lama secara tidak normal. Beberapa satwa mulai menunjukkan perilaku stereotip, melakukan kegiatan secara terus menerus/lama, obsesif, berulang-ulang  dan tidak bertujuan yang tidak terjadi di alam dan biasanya mengindikasikan  kesejahteraan yang kurang. Kebanyakan perilaku stereotip terjadi ketika satwa telah gagal untuk mengatasi atau gagal mengalihkan diri dari situasi yang mengakibatkan stress.

Memenuhi kebutuhan perilaku satwa liar dalam kurungan adalah hal penting bagi kesejahteraan mereka akan tetapi hal ini secara rutin sering dilupakan atau diabaikan oleh banyak kebun binatang. Semua satwa yang dipelihara dalam kandang harus diberikan kesempatan untuk mengontrol lingkungannya dan kesempatan untuk membuat pilihan singkatnya, mereka harus diijinkan untuk memiliki kontribusi yang berarti terhadap kualitas hidup mereka sendiri.

Setelah drh. Nur Aini memberikan pengarahan kemudian anggota KSSL melakukan penilaian terhadap Taman Satwa Taru Jurug. Metode penilaian dengan menggunakan standar penilaian standart animal welfare dengan menggunakan pendekatan five of freedom yang berupa checksheet Zoo Exhibit Quick Audit Process (zeqap), proses penilaian cepat satwa dalam kurungan (checksheet terlampir).

Veterinary Bird Walk # 3

Juli 24, 2011

waktu dan tempat : Minggu, 17 April 2011 di Plawangan dan Gua Jepang Kaliurang

Kegiatan birdwathcing dilakukan di Bukit Plawangan dengan mengambil lokasi di dua tempat yaitu Gua Jepang dan Plawangan. Kegiatan dimulai dengan pembukaan acara oleh ketua panitia dan sebelum melakukan pengamatan peserta mendapat pengarahan dan panduan mengenai hal–hal yang perlu dicatat dan diamati saat melakukan pengamatan burung. Pengarahan disampaikan oleh pemandu yang ahli pada bidang tersebut. Setelah mendapatkan pengarahan peserta mulai dibagi dalam beberapa kelompok serta pembagian peralatan yang digunakan dalam melakukan pengamatan burung, seperti binoculler, field guide dan alat tulis. Setelah semua peralatan lengkap peserta mulai berangkat menuju lokasi birdwthcing di Gua Jepang dan Plawangan. Peserta melakukan pengamatan setiap burung liar yang terlihat disekitar Gua Jepang dan Plawangan, seperti mengidentifikasi morfologi, suara dan warna burung yang merupakan panduan untuk menentukan speies dari burung yang diamati. Ketika pengamatan juga dilakukan pembuatan sketsa burung yang nantinya akan dicocokan dengan literatur yang telah diberikan. Sketsa ini meliputi bentuk morfologi, warna, dan ciri – ciri spesifik dari masing – masing jenis burung pantai.

Ketika melakukan birdwathcing sesuai dengan pengarahan dari pemandu diberi keterangan tentang beberapa jenis burung, identifikasi dan karakteristik dari burung tersebut. Dengan melakukan dokumentasi beberapa hal yang penting yang dapat digunakan untuk referensi. Setelah melakukan pengamatan dan kembali menuju basecamp, acara dilanjutkan dengan ishoma. Dalam ishoma ini kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai hasil pengamatan yang dilakukan dengan didampingi oleh pemandu. Diskusi mulai dari jalannya acara, data burung yang didapat ketika melakukan pengamatan burung. Tidak lupa peserta juga melakukan pencatatan mengenai jumlah burung yang masih banyak terlihat di Bukit Turgo. Selain itu diberikan juga penghargaan bagi dua peserta terbaik yang mendapatkan banyak data tentang burung di Bukit Turgo. Rata – rata data burung terbanyak terdapat di Gua Jepang. Karena medan di Plawangan sulit untuk birdwatching, karena jalan licin dan banyak pohon tumbang.

Check and Database Pisces

Juli 24, 2011

Waktu dan Tempat : Minggu, 27 Maret 2011 di Pantai Sadranan, Wonosari Gunung Kidul.

Kegiatan Check and Database Pisces ini diikuti oleh 24 anggota KSSL. Kegiatan Check and Database Pisces 2011 berlangsung di dua tempat, yaitu di Pantai Sadranan. Kehiatan dimulai dari Pantai Sadranan, seelum peserta melakukan pengamatan, peserta mendapat panduan dan pengarahan mengenai hal-hal yang perlu dicatat dan diamati saat melakukan check pisces serta teknik snorkeling. Pengarahan disampaikan oleh Ketua Panitia dan diberikan handout yang berisi tentang blangko yang harus diisi oleh peserta saat melakukan pengamatan yang dilanjutkan dengan pengarahan teknik dan cara snorkeling yang tepat dari Pemandu Snorkeling. Setelah mendapat pengarahan dari Ketua Panitia dan Pemandu Snorkeling, sebagian peserta memulai dengan melakukan pengamatan hewan-hewan air laut yang berada di sekitar pesisir pantai Sadranan dan sebagiannya memulai pengamatan dengan cara snorkeling. Peserta melakukan pencatatan seperti bentuk, warna dan tingkah laku. Apabila peserta kesulitan, peserta sesuai dengan pengarahan melakukan pemotretan berupa foto yang nantinya bila belum mengetahui bisa mencari di literature berdasarkan hasil gambar foto yang diambil.

Namun kegiatan terkendala oleh cuaca yang tidak mendukung dan terjadi pasang sehingga pengamatan kurang berjalan lancer. Tidak banyak ikan yang dapat ditemukan karena air yang menjadi agak keruh dan arus ombak yang tinggi. Apabila cuaca cukup mendukung maka akan banyak ditemukan ikan-ikan karang dan juga bintang ular laut serta kepiting disekitar karang.

Ikan yang berhasil diamati oleh peserta hanya 2 jenis, yaitu Dump Sel Fish yang berwarna dasar putih dan terdapat garis-garis berwarna hitam serta Sugeon Fish yang berbentuk pipih dan berwarna hitam pekat.

Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT)

Juli 24, 2011

Waktu dan Tempat : Minggu, 20 Febuari 2011 di Ruang 101 knsd, Lantai 1 gedung V4 FKH UGM

Kegiatan :  Menambah pengetahuan mengenai semua divisi diKSSL serta praktek handling, restrain dan pengambilan sampel darah

 

Acara I “Kepengurusan”

Sambutan Ketua Panitia oleh Rudiar Anisa. Ketua KSSL: Eni Purwaningsih. Dosen Pembimbing KSSL: Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto. Pengenalan kepengurusan KSSL: Eni Purwaningsih

Informasi-informasi:

  1. Jumat, 18 Februari 2011 ada diskusi yang diselenggarakan WCF.
  2. UGM kurang ahli satwa liar, IPB lumayan banyak.
  3. Pemerintah kurang mendukung, masyarakat kurang peka, sehingga banyak buku yang terbit di luar negeri yang sebenarnya  produk dalam negeri.
  4. Kementerian Kehutanan berencana untuk membangun Rumah Sakit Gajah dan hewan-hewan lain, bekerja sama dengan Australia, pertama di dunia. Masing-masing bidang akan membutuhkan tenaga ahli dokter hewan yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya sebagai calon dokter hewan. Selain itu, pembangunan kebun binatang di Solo, PPS Jogja. Dana untuk proyek ini dari Kehutanan, DIKTI.
  5. Pelestarian satwa liar tidak di alam buatan, mungkin bisa diisolasi dalam satu pulau sehingga dapat berkembang biak seperti komodo.

Acara II “Penayangan Video Mamalia”

Video ini berisi tentang cara pengambilan darah pada sigung yang dilakukan pada vena jugularis; pemeriksaan fisik berupa reflex mata, cara berjalan; metode restraint dan pengambilan darah singa laut.

Acara III “Materi Mamalia”

Moderator       : Setyo Yudhanto, SKH

Pemateri          : Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo

Mamalia yaitu hewan yang meiliki ciri-ciri melahirkan, menyusui, memiliki rambut, berdarah panas, kebanyakan memiliki 4 tungkai (2 depan, 2 belakang). Membingungkan: kelelawar, paus, pesut. Perlu kunci untuk identifikasi dan latihan lebih jauh, contohnya kelelawar dengan identifikasi gigi. Contoh mamalia yang dilindungi di antaranya anoa, Anoa quarlesi, binturong, pulusan, babirusa, paus biru, paus bersirip, banteng, rusa Bawean, kambing Sumatera, rusa sambar, gajah, badak Sumatera, kucing emas, monyet hitam Sulawesi, dan lain-lain.

Kucing hutan (Felis bengalensis) sama seperti kucing rumahan, bulu tubuh halus dan pendek, warna kucing kecoklatan dengan belang-belang hitam di kepala sampai tengkuk, selebihnya totol-totol hitam. Tampak berkeliaran, sendiri, berpasangan.

Harimau Sumatera: warna paling gelap, pola hitam berukuran lebar dan jaraknya rapat atau dempet. Belang lebih tipis dari harimau lain. Lebih banyak janggut dan surai, nocturnal, di antara jarinya berselaput. Dianggap mengganggu karena memangsa ternak penduduk, bahkan manusia. Hampir punah, diambil bulunya, sasaran perburuan pejabat,

Badak Sumatera. Ada cula. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon. Termasuk hewan pemalu seperti rusa Bawean dan harimau (menyingkir bila ada bau manusia).

Faktor-faktor yang mengancam satwa yaitu hilang dan rusaknya habitat; illegal logging; perdagangan dan perburuan liar; fragmentasi habitat karena pembangunan, kebakaran, bencana dan lain-lain. Penurunan populasi karena rusaknya habitat.

Punahnya satwa liar karena illegal logging, pembukaan pemukiman, konversi lahan, kebakaran, otonomi daerah, bencana, perburuan satwa liar, konflik sospol, kesadaran hukum, dan lain-lain.

Konservasi in situ: melestarikan di habitat aslinya, hidup bebas tanpa dibatasi ruang geraknya, hidup tanpa cekaman, alternative lain eks-situ bila sangat terpaksa.

Diagram Kegiatan Konservasi

  1. Tingkat populasi dan spesies: pengelolaan populasi (distribusi, perilaku, genetika, demografi ukuran), pemantauan populasi.
  2. Tingkat komunitas: pengelolaan habitat, pengelolaan kawasan dan masyarakat. Keduanya perlu pembuatan management plan.

Penangkaran = konservasi di luar habitat asli = konservasi eks situ. Biaya mahal, banyak kontroversi, timbul penyakit menular, resiko tinggi, banyak modal sehingga hanya memikirkan keuntungan. Perlu inovasi, kekompakan dokter hewan. Ratifikasi CITES, LIPI memegang otoritas ilmiah dalam kuota perdagangan. Kebun binatang (taman Safari) memperhatikan animal welfare. Hukum dan perundang-undangan tentang satwa liar UU No. 5 Tahun 1967 banyak, kurang pengawasan dalam pelaksanaan. Perlu standarisasi dan pengawasan, dokter hewan harus berperan.

Identifikasi juga recording mamalia (tagging). Emerging Infectious Disease => menyerang ternak, satwa liar, dan manusia, contohnya virus, parasit. Eksploitasi satwa sirkus dimana pelatihannya menggunakan kekerasan. Tantangan mahasiswa KH yaitu pengetahuan luas tentang konservasi, perubahan iklim, perundangan, penyakit zoonosis, perlu belajar organisasi, networking dan fundraising.

Acara IV “Materi Pisces dan Penayangan Video”

Pemateri          : Siswono Budi Setiawan

Moderator       : Aulia Nurrachmi

Laut Indonesia kaya karena terletak di ring of fire (untaian gunung berapi) yang ironisnya lebih banyak dinikmati oleh orang luar. Kecepatan pertumbuhan terumbu karang cepat di Indonesia dibanding tempat lain di dunia, keragaman spesies Indonesia juga termasuk paling kaya. Keragaman kaya karena lokasi geografis Indonesia (persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik), suhu hangat (khatulistiwa), pertemuan arus samudera yang berputar di Indonesia. Setiap titik di Indonesia berharga sehingga seharusnya seluruh Indonesia dilindungi. Pantai lurus (barat) habitat sedikit dan seragam. Pantai arah timur banyak pertumbuhan struktur geografis dengan habitat yang kaya.

Ikan Barakuda agresif, panjang mencapai 2m, Parrot fish memakan alga memecah karang memiliki modifikasi seperti burung kakatua, sotong merupakan bunglon lautan.

Sponge (Porifera) penghasil senyawa kimia untuk melindungi diri. Harus meningkatkan kreativitas, menekuni satu bidang, agar dapat mengolah kekayaan laut Indonesia.

Acara V “Materi Aves”

Pemateri          : Imam Taufiqurrahman

Moderator       : Randy Kusuma

Burung dipilih sebagai objek pengamatan karena sebagai indikator perubahan lingkungan (polutan, kualitas air, dampak perubahan global, dan lain-lain). 1600 spesies burung di Indonesia, 2 spesies terancam punah. 132 spesies punah sejak tahun 1500 dan 22 punah sejak tahun 2000. 122 jenis globally threatened bird dari total 190 jenis di seluruh dunia (IUCN, 2010). Contohnya seluruh jenis burung Raja Udang.

Penyebab: hilangnya habitat (illegal logging, konversi lahan dan hutan, fragmentasi hutan), spesies introduksi (spesies asli kalah dengan spesies pendatang – persaingan antar spesies dalam usahanya mempertahankan hidup, contohnya burung gereja, burung jalak, burung merak ungu pendatang di Bandung), perburuan dan eksploitasi, hibridisasi, ancaman lain (tumpahan minyak, jarring nelayan, polusi, jaringan listrik, dll).

Perlindungan jenis : IUCN, PP No. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa; perlindungan habitat : UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Jalak putih : critically endangered, merak hijau : endangered. List IUCN selalu diperbaharui tiap tahun.

Pelestarian : captive breeding (penangkaran); reintroduksi (pengembalian spesies ke habitatnya, contohnya Jalak Bali direintroduksi ke Nusa Penida – pulau di dekat Bali) dan translokasi; perlindungan habitat (konservasi, taman nasional, cagar alam, dan lain-lain).

Mengamati burung: suatu bentuk interaksi untuk mempelajari burung di alam. Pemerhati burung berfungsi seperti mata dan telinga planet ini (John McKinnon). Manfaat: penyaluran hobi dan rekreasi, penelitian, menumbuhkan nilai2 konservasi, menumbuhkan cinta tanah air.

Acara VI “Materi Primata”

Pemateri : Rini Widayanti

Moderator : Annisa Dian Savitri

Ada 400 jenis Primata didunia dan di Indonesia ada 20 jenis. Primata perlu dilestarikan karena:

  1. Berperan melestarikan alam melalui perilaku mencari makanannya
  2. Merupakan daya tarik bagi alam Indonesia

Primata dibagi 2 ordo: Prosimii (primitive dan punya moncong) dan Antropoidea. Indonesia memiliki sub ordo Catarhini karena hidungnya belah. Kera tidak punya ekor (hominidae) sedangkan monyet (Cercophithecoidae) memiliki ekor. Oak Jawa hampir punah. Tarsius masih diperdebatkan apakah masuk Streptosirrini atau Haplorrini. Promision ada di negara Amerika dan Indonesia.

Primata diIndonesia ada 40 jenis, sedangkan beberapa diantaranya endemis. Contohnya: Orang Utan, Tarsius Kalimantan, dan sebagainya. Macaca yang tidak dilindungi ada 2: Macaca nemestrina (beruk) dan Macaca fascicularis.

Tarsius hobinya meloncat. Tarsius secara morfologis sulit dibedakan antar spesies. Tarsius yang sudah dikonservasi eks-situ tidak bisa dikembalikan ke alam karena susah mengidentifikasi ciri-cirinya. Berdasarkan IUCN, dari 634 spesies primata yang hampir punah ada 20 jenis primata yang perlu ditangani khusus, dan ada 4 jenis primata ada Indonesia, yakni : Orang Utan Sumatra, Kukang Jawa, Tarsius Siau, Monyet Ekor Babi (Pig-tailed Langur).

Permasalahan primata yang dilindungi yaitu penebangan hutan di Kalimantan sudah digunakan untuk pertambangan. TN Tangkukur Sulut, banyak ditemukan Tarsius dan urinnya sangat menyengat.

 

Peran Pemerintah Indonesia dalam konservasi Orang Utan Sumatra

–          Ada Peraturan untuk melindungi Primata2 tersebut

–          Ada konservasi in-situ dan eks-situ

Peran dunia melalui CITES untuk konservasi primata. Peran peneliti: meningkatkan konservasi primata.

–          Reproduksi            : hormonal

–          Penyakit                : parasit

–          Genetika                : inbreeding (kawin antarsaudara), polusi genetik (percampuran dua spesies berbeda)

–          Penangkaran          : tingkah laku, makan

–          Kendala                 : dana, perizinan untuk pengambilan sampel

Tidak boleh untuk kepemilikan pribadi karena termasuk satwa dilindungi. Untuk membantu konservasi dapat dilakukan dengan menambah pengetahuan tentang primata dan magang di salah satu lembaga konservasi.

Bayi tarsius dibawa kemanapun induk pergi dengan cara digigit di tengkuk si anak sampai benar2 mandiri. Dapat pula ditinggal di sarang.

Polusi genetic adalah percampuran genetic antara 2 spesies berbeda, disebabkan campur tangan manusia. Contohnya tarsius yang secara morfologi susah dibedakan.

Acara VII “Materi Reptil”

Pemateri          : Lydia Apririasari

Moderator       : Dinar Mukti Adi Nugraha

Penangkaran ular berbisa tinggi, pet, karena ekonomi, bukan untuk melestarikan/memenuhi kebutuhan, padahal konsumsi banyak. Ular suka dengan tempat lembap, dekat dengan air, mendapat cahaya matahari (membantu metabolisme, menyesuaikan suhu), banyak mangsa, berdarah dingin (tahan lapar). Habitat reptil: air, setengah perairan (Elephant snake), darat, pohon, gurun.

Permasalahan:

  1. Belum lengkapnya data dasar populasi dan habitat tumbuhan dan satwa liar yang dapat dimanfaatkan
  2. Kerusakan dan penurunan kualitas habitat satwa liar
  3. Penetapan kuota pemanfaatan
  4. Pengendalian peredaran ke atau dari luar negeri
  5. Belum mantapnya sistem pengendalian pemanfaatan nasional, regional, dan internasional

Menurut PP No. 7 Tahun 1999, ada 31 reptil yang dilindungi (appendix 1) di antaranya tuntong, penyu tempayan, soa payung, sanca timur, sanca bodo, buaya, komodo, dan lain-lain. Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar oleh Dirjen PHKA. Berupaya memulihkan populasi melalui konservasi, mengelola spesies yang terancam punah, mengembangkan peran serta masyarakat dalam pemanfaatan dan konservasi, mempertahankan genetic dan kemurnian jenis, mengendalikan populasi jenis dan habitat, dan lain-lain. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.

International Workshop on Primatology

Agustus 26, 2009

Berbagai  kegiatan yang berkaitan dengan satwa liar dilaksanankan dalam rangka Dies Natalis FKH UGM yang ke 63. Salah satunya yang berkaitan dengan satwa liar adalah pelaksanaan International Workshop on Primatology. Rangkaian workshop berskala internasional ini berlangsung selama dua hari yang bertempat di Fakultas Kedokteran Hewan UGM dan Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka. Workshop yang berlangsung tanggal 11-12 Agustus ini tidak lepas dari KSSL (Kelompok Studi Satwa Liar) sebagai bagian dari Kepanitiaan dan pelaksana kegiatan. Dengan tema “Closer Look at Primate’s Health, Biology, Psychology and Legal Aspect” menghadirkan pembicara dan instruktur dari berbagai organisasi dan lembaga yang bergerak di bidang satwa liar dari lokal dan dunia. Baca selengkapnya…

Kuliah Umum Primata Datangkan Doktor dari Jepang

Agustus 26, 2009

Pada Bulan Juli lalu salah KSSL FKH UGM mengadakan acara Kuliah Umum Primata dengan mendatangkan pembicara dari Kyoto University Dr Murai-san dan Dr Koda-san. Acara yang diikuti anggota KSSL dan para pemerhati primate ini berlangsung singkat di FKH UGM. Dr Murai-san memberikan pengetahuan tentang primate, tentang bagaimana membedakan individu dalam satu jenis primate. Dr ahli primata dari Jepang ini juga menceritakan bagaimana melakukan penelitian tentang primate di Kalimantan, karena tinggal di Kalimantan cukup lama beliau pun sedikit menguasai bahasa melayu sehingga dalam memberikan materi menggunakan campuran bahasa melayu dan Inggris serta kadang-kadang menggunakan bahasa Jepang.

Baca selengkapnya…