Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT)
Waktu dan Tempat : Minggu, 20 Febuari 2011 di Ruang 101 knsd, Lantai 1 gedung V4 FKH UGM
Kegiatan : Menambah pengetahuan mengenai semua divisi diKSSL serta praktek handling, restrain dan pengambilan sampel darah
Acara I “Kepengurusan”
Sambutan Ketua Panitia oleh Rudiar Anisa. Ketua KSSL: Eni Purwaningsih. Dosen Pembimbing KSSL: Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto. Pengenalan kepengurusan KSSL: Eni Purwaningsih
Informasi-informasi:
- Jumat, 18 Februari 2011 ada diskusi yang diselenggarakan WCF.
- UGM kurang ahli satwa liar, IPB lumayan banyak.
- Pemerintah kurang mendukung, masyarakat kurang peka, sehingga banyak buku yang terbit di luar negeri yang sebenarnya produk dalam negeri.
- Kementerian Kehutanan berencana untuk membangun Rumah Sakit Gajah dan hewan-hewan lain, bekerja sama dengan Australia, pertama di dunia. Masing-masing bidang akan membutuhkan tenaga ahli dokter hewan yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya sebagai calon dokter hewan. Selain itu, pembangunan kebun binatang di Solo, PPS Jogja. Dana untuk proyek ini dari Kehutanan, DIKTI.
- Pelestarian satwa liar tidak di alam buatan, mungkin bisa diisolasi dalam satu pulau sehingga dapat berkembang biak seperti komodo.
Acara II “Penayangan Video Mamalia”
Video ini berisi tentang cara pengambilan darah pada sigung yang dilakukan pada vena jugularis; pemeriksaan fisik berupa reflex mata, cara berjalan; metode restraint dan pengambilan darah singa laut.
Acara III “Materi Mamalia”
Moderator : Setyo Yudhanto, SKH
Pemateri : Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo
Mamalia yaitu hewan yang meiliki ciri-ciri melahirkan, menyusui, memiliki rambut, berdarah panas, kebanyakan memiliki 4 tungkai (2 depan, 2 belakang). Membingungkan: kelelawar, paus, pesut. Perlu kunci untuk identifikasi dan latihan lebih jauh, contohnya kelelawar dengan identifikasi gigi. Contoh mamalia yang dilindungi di antaranya anoa, Anoa quarlesi, binturong, pulusan, babirusa, paus biru, paus bersirip, banteng, rusa Bawean, kambing Sumatera, rusa sambar, gajah, badak Sumatera, kucing emas, monyet hitam Sulawesi, dan lain-lain.
Kucing hutan (Felis bengalensis) sama seperti kucing rumahan, bulu tubuh halus dan pendek, warna kucing kecoklatan dengan belang-belang hitam di kepala sampai tengkuk, selebihnya totol-totol hitam. Tampak berkeliaran, sendiri, berpasangan.
Harimau Sumatera: warna paling gelap, pola hitam berukuran lebar dan jaraknya rapat atau dempet. Belang lebih tipis dari harimau lain. Lebih banyak janggut dan surai, nocturnal, di antara jarinya berselaput. Dianggap mengganggu karena memangsa ternak penduduk, bahkan manusia. Hampir punah, diambil bulunya, sasaran perburuan pejabat,
Badak Sumatera. Ada cula. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon. Termasuk hewan pemalu seperti rusa Bawean dan harimau (menyingkir bila ada bau manusia).
Faktor-faktor yang mengancam satwa yaitu hilang dan rusaknya habitat; illegal logging; perdagangan dan perburuan liar; fragmentasi habitat karena pembangunan, kebakaran, bencana dan lain-lain. Penurunan populasi karena rusaknya habitat.
Punahnya satwa liar karena illegal logging, pembukaan pemukiman, konversi lahan, kebakaran, otonomi daerah, bencana, perburuan satwa liar, konflik sospol, kesadaran hukum, dan lain-lain.
Konservasi in situ: melestarikan di habitat aslinya, hidup bebas tanpa dibatasi ruang geraknya, hidup tanpa cekaman, alternative lain eks-situ bila sangat terpaksa.
Diagram Kegiatan Konservasi
- Tingkat populasi dan spesies: pengelolaan populasi (distribusi, perilaku, genetika, demografi ukuran), pemantauan populasi.
- Tingkat komunitas: pengelolaan habitat, pengelolaan kawasan dan masyarakat. Keduanya perlu pembuatan management plan.
Penangkaran = konservasi di luar habitat asli = konservasi eks situ. Biaya mahal, banyak kontroversi, timbul penyakit menular, resiko tinggi, banyak modal sehingga hanya memikirkan keuntungan. Perlu inovasi, kekompakan dokter hewan. Ratifikasi CITES, LIPI memegang otoritas ilmiah dalam kuota perdagangan. Kebun binatang (taman Safari) memperhatikan animal welfare. Hukum dan perundang-undangan tentang satwa liar UU No. 5 Tahun 1967 banyak, kurang pengawasan dalam pelaksanaan. Perlu standarisasi dan pengawasan, dokter hewan harus berperan.
Identifikasi juga recording mamalia (tagging). Emerging Infectious Disease => menyerang ternak, satwa liar, dan manusia, contohnya virus, parasit. Eksploitasi satwa sirkus dimana pelatihannya menggunakan kekerasan. Tantangan mahasiswa KH yaitu pengetahuan luas tentang konservasi, perubahan iklim, perundangan, penyakit zoonosis, perlu belajar organisasi, networking dan fundraising.
Acara IV “Materi Pisces dan Penayangan Video”
Pemateri : Siswono Budi Setiawan
Moderator : Aulia Nurrachmi
Laut Indonesia kaya karena terletak di ring of fire (untaian gunung berapi) yang ironisnya lebih banyak dinikmati oleh orang luar. Kecepatan pertumbuhan terumbu karang cepat di Indonesia dibanding tempat lain di dunia, keragaman spesies Indonesia juga termasuk paling kaya. Keragaman kaya karena lokasi geografis Indonesia (persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik), suhu hangat (khatulistiwa), pertemuan arus samudera yang berputar di Indonesia. Setiap titik di Indonesia berharga sehingga seharusnya seluruh Indonesia dilindungi. Pantai lurus (barat) habitat sedikit dan seragam. Pantai arah timur banyak pertumbuhan struktur geografis dengan habitat yang kaya.
Ikan Barakuda agresif, panjang mencapai 2m, Parrot fish memakan alga memecah karang memiliki modifikasi seperti burung kakatua, sotong merupakan bunglon lautan.
Sponge (Porifera) penghasil senyawa kimia untuk melindungi diri. Harus meningkatkan kreativitas, menekuni satu bidang, agar dapat mengolah kekayaan laut Indonesia.
Acara V “Materi Aves”
Pemateri : Imam Taufiqurrahman
Moderator : Randy Kusuma
Burung dipilih sebagai objek pengamatan karena sebagai indikator perubahan lingkungan (polutan, kualitas air, dampak perubahan global, dan lain-lain). 1600 spesies burung di Indonesia, 2 spesies terancam punah. 132 spesies punah sejak tahun 1500 dan 22 punah sejak tahun 2000. 122 jenis globally threatened bird dari total 190 jenis di seluruh dunia (IUCN, 2010). Contohnya seluruh jenis burung Raja Udang.
Penyebab: hilangnya habitat (illegal logging, konversi lahan dan hutan, fragmentasi hutan), spesies introduksi (spesies asli kalah dengan spesies pendatang – persaingan antar spesies dalam usahanya mempertahankan hidup, contohnya burung gereja, burung jalak, burung merak ungu pendatang di Bandung), perburuan dan eksploitasi, hibridisasi, ancaman lain (tumpahan minyak, jarring nelayan, polusi, jaringan listrik, dll).
Perlindungan jenis : IUCN, PP No. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa; perlindungan habitat : UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Jalak putih : critically endangered, merak hijau : endangered. List IUCN selalu diperbaharui tiap tahun.
Pelestarian : captive breeding (penangkaran); reintroduksi (pengembalian spesies ke habitatnya, contohnya Jalak Bali direintroduksi ke Nusa Penida – pulau di dekat Bali) dan translokasi; perlindungan habitat (konservasi, taman nasional, cagar alam, dan lain-lain).
Mengamati burung: suatu bentuk interaksi untuk mempelajari burung di alam. Pemerhati burung berfungsi seperti mata dan telinga planet ini (John McKinnon). Manfaat: penyaluran hobi dan rekreasi, penelitian, menumbuhkan nilai2 konservasi, menumbuhkan cinta tanah air.
Acara VI “Materi Primata”
Pemateri : Rini Widayanti
Moderator : Annisa Dian Savitri
Ada 400 jenis Primata didunia dan di Indonesia ada 20 jenis. Primata perlu dilestarikan karena:
- Berperan melestarikan alam melalui perilaku mencari makanannya
- Merupakan daya tarik bagi alam Indonesia
Primata dibagi 2 ordo: Prosimii (primitive dan punya moncong) dan Antropoidea. Indonesia memiliki sub ordo Catarhini karena hidungnya belah. Kera tidak punya ekor (hominidae) sedangkan monyet (Cercophithecoidae) memiliki ekor. Oak Jawa hampir punah. Tarsius masih diperdebatkan apakah masuk Streptosirrini atau Haplorrini. Promision ada di negara Amerika dan Indonesia.
Primata diIndonesia ada 40 jenis, sedangkan beberapa diantaranya endemis. Contohnya: Orang Utan, Tarsius Kalimantan, dan sebagainya. Macaca yang tidak dilindungi ada 2: Macaca nemestrina (beruk) dan Macaca fascicularis.
Tarsius hobinya meloncat. Tarsius secara morfologis sulit dibedakan antar spesies. Tarsius yang sudah dikonservasi eks-situ tidak bisa dikembalikan ke alam karena susah mengidentifikasi ciri-cirinya. Berdasarkan IUCN, dari 634 spesies primata yang hampir punah ada 20 jenis primata yang perlu ditangani khusus, dan ada 4 jenis primata ada Indonesia, yakni : Orang Utan Sumatra, Kukang Jawa, Tarsius Siau, Monyet Ekor Babi (Pig-tailed Langur).
Permasalahan primata yang dilindungi yaitu penebangan hutan di Kalimantan sudah digunakan untuk pertambangan. TN Tangkukur Sulut, banyak ditemukan Tarsius dan urinnya sangat menyengat.
Peran Pemerintah Indonesia dalam konservasi Orang Utan Sumatra
- Ada Peraturan untuk melindungi Primata2 tersebut
- Ada konservasi in-situ dan eks-situ
Peran dunia melalui CITES untuk konservasi primata. Peran peneliti: meningkatkan konservasi primata.
- Reproduksi : hormonal
- Penyakit : parasit
- Genetika : inbreeding (kawin antarsaudara), polusi genetik (percampuran dua spesies berbeda)
- Penangkaran : tingkah laku, makan
- Kendala : dana, perizinan untuk pengambilan sampel
Tidak boleh untuk kepemilikan pribadi karena termasuk satwa dilindungi. Untuk membantu konservasi dapat dilakukan dengan menambah pengetahuan tentang primata dan magang di salah satu lembaga konservasi.
Bayi tarsius dibawa kemanapun induk pergi dengan cara digigit di tengkuk si anak sampai benar2 mandiri. Dapat pula ditinggal di sarang.
Polusi genetic adalah percampuran genetic antara 2 spesies berbeda, disebabkan campur tangan manusia. Contohnya tarsius yang secara morfologi susah dibedakan.
Acara VII “Materi Reptil”
Pemateri : Lydia Apririasari
Moderator : Dinar Mukti Adi Nugraha
Penangkaran ular berbisa tinggi, pet, karena ekonomi, bukan untuk melestarikan/memenuhi kebutuhan, padahal konsumsi banyak. Ular suka dengan tempat lembap, dekat dengan air, mendapat cahaya matahari (membantu metabolisme, menyesuaikan suhu), banyak mangsa, berdarah dingin (tahan lapar). Habitat reptil: air, setengah perairan (Elephant snake), darat, pohon, gurun.
Permasalahan:
- Belum lengkapnya data dasar populasi dan habitat tumbuhan dan satwa liar yang dapat dimanfaatkan
- Kerusakan dan penurunan kualitas habitat satwa liar
- Penetapan kuota pemanfaatan
- Pengendalian peredaran ke atau dari luar negeri
- Belum mantapnya sistem pengendalian pemanfaatan nasional, regional, dan internasional
Menurut PP No. 7 Tahun 1999, ada 31 reptil yang dilindungi (appendix 1) di antaranya tuntong, penyu tempayan, soa payung, sanca timur, sanca bodo, buaya, komodo, dan lain-lain. Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar oleh Dirjen PHKA. Berupaya memulihkan populasi melalui konservasi, mengelola spesies yang terancam punah, mengembangkan peran serta masyarakat dalam pemanfaatan dan konservasi, mempertahankan genetic dan kemurnian jenis, mengendalikan populasi jenis dan habitat, dan lain-lain. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.


